Puluhan Tahun Jadi Perantau di Kepahiang, Subowo Tutup Usia Seorang Diri, Warga Antar ke Peristirahatan Terakhir

Reporter: Chandra | Editor: Chandra

Perantau Dari Jawa Sebatang Kara, Meninggal Satu Desa Antarkan Keperistirahatan Terahirnya.

Puluhan Tahun Jadi Perantau di Kepahiang, Subowo Tutup Usia Seorang Diri, Warga Antar ke Peristirahatan Terakhir

 

KepahiangNews.com-Kepahiang – Puluhan tahun menjalani hidup sebagai perantau tanpa sanak keluarga di tanah rantau, Subowo (70), warga Desa Bogor Baru, Kecamatan Kepahiang, akhirnya menghembuskan napas terakhir di rumah tempatnya menumpang tinggal.

Kabar duka itu pertama kali diketahui warga setelah tetangganya, Leman (50), datang ke sekitar rumah Subowo saat sedang membersihkan kebun, Sabtu.

Sebelumnya, Leman sempat melihat Subowo masih dalam kondisi hidup. Bahkan, saat dipanggil dari luar, Subowo sempat melambaikan tangan kepada tetangganya tersebut.

“Saya waktu itu sedang membersihkan kebun di sekitar rumahnya. Saya panggil, dia masih ada dan sempat melambaikan tangan. Tidak lama setelah itu, saya kembali dan melihat kondisinya sudah meninggal,” ujar Leman.

Namun, beberapa saat kemudian, Subowo ditemukan telah meninggal dunia di dalam rumahnya.

Kepergian pria yang dikenal sebagai perantau asal Pulau Jawa itu menyisakan kisah panjang tentang perjuangan hidup seorang diri di tanah Sumatra.

Subowo diketahui pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Sumatra pada era 1990-an. Kecamatan Bermani Ilir menjadi salah satu tempat awal dirinya menjalani kehidupan sebagai perantau.

Tanpa sanak keluarga, Subowo bertahan hidup dengan bekerja menjaga kebun kopi milik warga.

Namun perjalanan hidupnya kembali berubah ketika kebun yang selama ini dijaganya dijual oleh pemilik. Subowo pun kembali harus mencari pekerjaan sekaligus tempat untuk berteduh.

Di tengah kondisi tersebut, jalan hidup mempertemukannya dengan M. Husni Sanawi, mantan Kepala Teknik PLN Kepahiang yang tinggal di Kelurahan Pensiunan.

Melihat kondisi Subowo yang tidak memiliki tempat tinggal dan pekerjaan tetap, M. Husni kemudian menawarkan Subowo untuk menjaga kebunnya yang berada di Desa Bogor Baru.

Tawaran tersebut diterima Subowo dengan penuh rasa syukur.

READ  Rumah Warga Batu Bandung Kepahiang Ambruk Akibat Angin Kencang Dan Hujan Lebat, Tidak Ada Korban Jiwa

Ia berjanji akan menjaga dan merawat kebun tersebut sebaik mungkin.

Kegigihan Subowo pun membuat M. Husni kerap membantunya dengan memberikan sembako maupun uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Namun, kehidupan kembali berubah setelah M. Husni memasuki masa pensiun. Bantuan yang sebelumnya rutin diterima Subowo mulai berkurang.

Tak ingin hanya berpangku tangan, Subowo kembali berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya dengan mencari pekerjaan di luar kampung.

Memasuki usia senja, kondisi kesehatan Subowo mulai menurun. Tubuh yang semakin renta membuat dirinya tak lagi leluasa bekerja seperti sebelumnya.

Di tengah keterbatasannya, warga sekitar perlahan menjadi tempatnya bersandar.
Ada tetangga yang datang membawa makanan, memberikan sembako, bahkan membantu dengan uang sekadar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Bagi Subowo, mereka bukan sekadar tetangga. Di tanah rantau, merekalah yang kemudian menjadi keluarga ketika usia dan keadaan membuatnya tak lagi mampu berbuat banyak.

Hingga akhirnya, perjalanan panjang Subowo di tanah rantau berakhir di rumah tempatnya tinggal di Desa Bogor Baru.
Warga yang mengetahui kabar tersebut kemudian membantu proses pemakaman. Jenazah Subowo akhirnya dikebumikan di TPU Desa Bogor Baru.

Puluhan tahun lalu, Subowo datang ke Kepahiang sebagai seorang perantau tanpa keluarga dan tanpa kepastian masa depan.
Kini, ia pergi untuk selamanya.

Namun, kisah hidupnya meninggalkan satu cerita sederhana tentang kerasnya hidup di tanah rantau, tentang kegigihan mencari makan, dan tentang kebaikan warga yang tetap hadir ketika seorang manusia membutuhkan uluran tangan.

Di tanah rantau, Subowo mungkin datang seorang diri. Tetapi ketika pergi, warga Desa Bogor Baru mengantarnya bersama-sama ke tempat peristirahatan terakhir.