Kepahiangnews.com-Kepahiang – Kisah pilu masih menyelimuti kehidupan Fridilla Sandi (46), warga Kelurahan Pensiunan, Kecamatan Kepahiang. Di tengah keterbatasan ekonomi, janda yang membesarkan dua orang anak itu harus bertahan hidup di sebuah gubuk reot berukuran sekitar 2 x 3,5 meter.
Ironisnya, di balik kondisi yang memprihatinkan tersebut, Fridilla diketahui belum pernah menerima bantuan sosial dari pemerintah, baik Program Keluarga Harapan (PKH) maupun Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT). Kondisi ini pun menjadi perhatian berbagai pihak setelah kisahnya mencuat ke publik.
Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Kepahiang, H. Helmi Johan, M.Pd, mengatakan pihaknya langsung turun ke lapangan setelah menerima laporan dari masyarakat. Selain memastikan kondisi Fridilla, Dinas Sosial juga menyerahkan bantuan kebutuhan pokok sebagai langkah awal penanganan.
“Kami sudah mendatangi warga tersebut dan memang benar merupakan warga Kabupaten Kepahiang. Saat ini kami melakukan pendataan. Berdasarkan data yang ada, yang bersangkutan baru terdaftar sebagai penerima PBI BPJS Kesehatan,” ujar Helmi, Selasa (4/8/2026).
Helmi menjelaskan, belum masuknya Fridilla sebagai penerima PKH maupun BPNT diduga karena posisi data kesejahteraannya masih berada pada Desil 5, sehingga belum memenuhi kriteria penerima bantuan sosial reguler.
Meski demikian, Dinas Sosial memastikan akan segera mengusulkan perubahan desil agar Fridilla dapat memperoleh haknya sebagai penerima bantuan sosial dari pemerintah.
“Kami akan mengusulkan perubahan desil agar yang bersangkutan bisa menerima bantuan sosial seperti PKH dan BPNT. Untuk bantuan perbaikan rumah atau bedah rumah, itu menjadi kewenangan Dinas PUPR,” jelasnya.
Di sisi lain, upaya perbaikan tempat tinggal Fridilla juga masih menghadapi kendala. Berdasarkan hasil pendataan, lahan yang ditempati bukan merupakan milik pribadi, melainkan masih menumpang di atas tanah milik orang tuanya.
“Persoalan status kepemilikan tanah ini juga menjadi salah satu hal yang harus diselesaikan apabila nantinya akan diusulkan dalam program bedah rumah,” tutup Helmi.
Kini, harapan besar tertuju pada percepatan proses pendataan dan perubahan status data kesejahteraan Fridilla. Masyarakat pun berharap perempuan yang selama ini hidup dalam keterbatasan tersebut segera memperoleh bantuan yang layak, sehingga dapat menjalani kehidupan yang lebih baik bersama kedua anaknya.






