Resmikan Koperasi Kopi SPI di Kepahiang, Kementerian Koperasi Perkuat Hilirisasi dan Kesejahteraan Petani

Reporter: candra | Editor: candra

Perwakilan Kementrian Koperasi RI Hadir Resmikan Koperasi Perkebunan Kopi

Resmikan Koperasi Kopi SPI di Kepahiang, Kementerian Koperasi Perkuat Hilirisasi dan Kesejahteraan Petani

Kepahiangnews.com-Kepahiang – Semangat perjuangan petani menggema dari Desa Sumber Sari, Kecamatan Kabawetan, Kabupaten Kepahiang. Sebanyak 3.000 petani yang tergabung dalam Serikat Petani Indonesia (SPI) dari Provinsi Bengkulu, Jambi, Lampung, hingga Sumatera Selatan memadati lokasi peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-28 SPI yang dirangkaikan dengan Hari Koperasi Nasional ke-79, Kamis (23/7/2026).

Mengusung tema “Melaksanakan Reforma Agraria dan Memperkuat Koperasi Petani untuk Mewujudkan Kedaulatan Pangan Menuju Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia,” kegiatan tersebut menjadi momentum penting bagi petani untuk memperkuat posisi mereka, tidak hanya dalam memperjuangkan hak atas tanah, tetapi juga membangun kemandirian ekonomi melalui koperasi.

Puncak kegiatan ditandai dengan peresmian Koperasi Perkebunan Kopi SPI, yang diharapkan menjadi wadah bagi petani dalam meningkatkan nilai tambah hasil panen sekaligus memperkuat kesejahteraan anggotanya.

Screenshot 20260725 132042

Screenshot 20260725 131138

Acara tersebut turut dihadiri Direktur Utama LPDB Koperasi Krisdianto, Asisten Deputi Pengembangan Produksi Kementerian Koperasi RI Elviandi Rusdi, Bupati Kepahiang yang Diwakilkan Asisten II Setda Kabupaten Kepahiang, Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi Bengkulu, Kepala Dinas Perdagangan Koperasi dna UKM Kepahiang Herman Zamzari, Kepala Dinas Pertanian Kepahiang Taufik, serta jajaran pemerintah daerah dari berbagai kabupaten dan kota di Provinsi Bengkulu.

Ketua DPW SPI Bengkulu, Junaidi, mengungkapkan bahwa perjuangan SPI di Kabupaten Kepahiang telah dimulai sejak tahun 2013. Selama lebih dari satu dekade, organisasi tersebut terus mendampingi petani dalam memperjuangkan hak atas lahan yang selama ini menjadi sumber konflik agraria.

“SPI hadir di Kepahiang sejak tahun 2013. Kami terus berjuang bersama petani untuk memperoleh kepastian hak atas tanah. Saat ini lahan garapan anggota SPI di Kepahiang mencapai sekitar 1.580,9 hektare, sedangkan di Rejang Lebong sekitar 2.400 hektare yang masih dalam proses penyelesaian bersama pemerintah,” ujar Junaidi.

READ  Desa Babakan Bogor Kepahiang Tingkatkan Ketahanan Pangan, Ciptakan Kesejahteraan Masyarakat

Menurutnya, perjuangan panjang tersebut mulai menunjukkan hasil nyata. Melalui program redistribusi tanah yang dilakukan pemerintah, sebanyak 96 hektare lahan atau 137 bidang tanah di Desa Air Sempiang, Kecamatan Kabawetan, telah resmi diserahkan kepada petani dalam bentuk Sertipikat Hak Milik (SHM).
Junaidi menegaskan, reforma agraria tidak akan memberikan manfaat maksimal apabila tidak diiringi dengan penguatan kelembagaan ekonomi petani.

“Tanah yang sudah diperjuangkan harus mampu meningkatkan kesejahteraan. Karena itu koperasi menjadi instrumen penting agar petani memiliki kekuatan ekonomi. Kami berharap pemerintah desa, pemerintah daerah hingga pemerintah pusat terus berkolaborasi memperkuat koperasi petani,” tegasnya.

Sementara itu, Asisten Deputi Pengembangan Produksi Kementerian Koperasi RI Elviandi Rusdi menyampaikan bahwa pemerintah saat ini tengah menjadikan desa sebagai pusat pertumbuhan ekonomi nasional.

Menurutnya, kehadiran Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) akan menjadi solusi dalam memperkuat ekonomi masyarakat desa, termasuk membantu petani memasarkan hasil produksinya.

“Sudah saatnya ekonomi Indonesia tumbuh dari desa. Ketika Koperasi Merah Putih berjalan optimal, hasil produksi masyarakat, termasuk kopi dan komoditas pertanian lainnya, akan memiliki pasar yang lebih kuat sehingga kesejahteraan petani juga meningkat,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum SPI Henry Saragih mengingatkan bahwa perjuangan reforma agraria masih jauh dari selesai. Ia menyebut keberhasilan redistribusi ribuan hektare tanah di Bengkulu merupakan bukti bahwa perjuangan petani mampu menghasilkan perubahan nyata.

“Empat belas ribu hektare tanah yang diperjuangkan sejak deklarasi tahun 2013 kini sudah berhasil diredistribusikan. Ini menjadi bukti bahwa perjuangan petani membuahkan hasil. Namun perjuangan belum selesai, masih banyak petani yang menunggu hak atas tanahnya,” ujar Henry.

Ia berharap pemerintah terus memperluas redistribusi tanah dan memperkuat koperasi sebagai pilar ekonomi petani.

READ  Danau Biru Viral Di Hutan HKM Kepahiang Ramai Dikunjungi, Dinas Pariwisata Dukung Pengembangan Dengan Perizinan

“Tanah yang dimiliki petani harus mampu menghadirkan kesejahteraan, memperkuat kedaulatan pangan, sekaligus menciptakan keadilan sosial. Masih ada jutaan petani gurem di Indonesia yang membutuhkan perhatian bersama,” tambahnya.

Usai peresmian koperasi, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi publik yang menghadirkan Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi Bengkulu Tentrem Prihatin, Asisten Deputi Kementerian Koperasi RI Elviandi Rusdi, serta I Ketut Adijaya dari LPDB Koperasi. Diskusi membahas penguatan reforma agraria, pengembangan koperasi petani, hingga akses pembiayaan agar koperasi mampu berkembang secara berkelanjutan.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan penanaman bibit kopi secara simbolis di lahan perjuangan reforma agraria SPI. Penanaman tersebut menjadi simbol bahwa perjuangan petani tidak berhenti pada memperoleh tanah, tetapi berlanjut pada upaya mengelolanya secara produktif melalui koperasi agar mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga petani sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.