KepahiangNews.com-Lebong – Jalan menuju lahan pertanian yang selama ini menjadi bagian penting dari kehidupan warga Desa Embong Uram Kabupaten Lebong Provinsi Bengkulu, segera mendapat akses baru. Jembatan Perintis Garuda sepanjang 12 meter dan lebar 3 meter mulai dipersiapkan, membawa harapan bagi sekitar 878 kepala keluarga atau kurang lebih 1.000 jiwa di wilayah tersebut.
Harapan itu terlihat dari aktivitas gotong royong yang dilakukan masyarakat bersama Babinsa Kodim 0409/Rejang Lebong, Serka Sutrisno.
“Jembatan ini dibangun untuk masyarakat. Harapannya, setelah selesai nanti tidak ada lagi kesulitan akses yang menghambat warga menuju lahan maupun membawa hasil pertanian. Kami ingin kehadiran TNI benar-benar memberikan manfaat dan dirasakan langsung oleh masyarakat,” kata Dandim 0409/Rejang Lebong Letkol Inf Agung Lewis Oktorada melalui Babinsa Serka Sutrisno.
Di tengah masyarakat, Serka Sutrisno tidak hanya datang sebagai aparat teritorial. Ia ikut turun tangan bersama warga, bergotong royong mendukung persiapan pembangunan jembatan yang nantinya diharapkan menjadi jalur penting bagi aktivitas masyarakat. Bagi warga Embong Uram, jembatan ini bukan sekadar infrastruktur.
Ada lahan pertanian, ada hasil panen, dan ada roda perekonomian warga yang menunggu akses lebih mudah.
Selama ini akses menuju kawasan pertanian menjadi bagian dari aktivitas masyarakat. Ketika jembatan selesai dibangun, mobilitas warga diharapkan semakin lancar, termasuk saat mengangkut hasil pertanian dari lahan menuju permukiman maupun titik pemasaran. Dampaknya pun diproyeksikan tidak kecil.
Sekitar 878 KK atau kurang lebih 1.000 jiwa diperkirakan akan merasakan manfaat dari keberadaan jembatan tersebut.
Pembangunan Jembatan Perintis Garuda di Desa Embong Uram merupakan bagian dari program unggulan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto yang digagas dan dilaksanakan di wilayah Kodim 0409/Rejang Lebong.
Program tersebut menyasar pembangunan akses penghubung yang dibutuhkan masyarakat, terutama di wilayah yang memiliki keterbatasan infrastruktur.
Di Desa Embong Uram, jembatan dengan panjang 12 meter dan lebar 3 meter itu diharapkan mampu membuka konektivitas sekaligus memperlancar aktivitas masyarakat.
Kehadiran Babinsa bersama warga dalam proses gotong royong menjadi gambaran bagaimana pembangunan tersebut tidak hanya dikerjakan sebagai proyek infrastruktur, tetapi juga dibangun melalui semangat kebersamaan. TNI dan masyarakat menyatu dalam satu pekerjaan.
Bagi petani, akses yang baik berarti perjalanan menuju lahan menjadi lebih mudah. Hasil panen pun diharapkan dapat diangkut dengan lebih lancar.
Pada akhirnya, keberadaan jembatan ini bukan hanya tentang menghubungkan dua sisi wilayah.
Jembatan Garuda di Embong Uram diharapkan menjadi penghubung antara lahan pertanian dengan pasar, antara hasil panen dengan penghasilan, serta antara harapan warga dengan kehidupan yang lebih baik.
Semangat gotong royong yang ditunjukkan Babinsa dan masyarakat pun menjadi bagian dari proses panjang tersebut.
Sebab bagi warga, sebuah jembatan mungkin hanya terlihat sebagai bangunan.
Namun di baliknya, ada 878 kepala keluarga dan sekitar 1.000 jiwa yang menaruh harapan agar akses mereka semakin terbuka dan roda perekonomian semakin bergerak.
