News  

Rumah Berdinding Bambu, Atap Bocor Serta Lantai Tanah, PWI-LS Temukan Kisah Haru di Kepahiang dan Berikan Bantuan

Reporter: candra | Editor: candra
Rumah Berdinding Bambu, Atap Bocor Serta Lantai Tanah, PWI-LS Temukan Kisah Haru di Kepahiang dan Berikan Bantuan

Kepahiangnews.com-Kepahiang – Di balik hiruk-pikuk kehidupan masyarakat Kabupaten Kepahiang, masih ada keluarga yang setiap harinya harus berjuang keras hanya untuk memenuhi kebutuhan makan dan bertahan di rumah yang jauh dari kata layak.

Kondisi tersebut ditemukan Perjuangan Walisongo Indonesia-Laskar Sabilillah (PWI-LS) Cabang Kepahiang saat melakukan penelusuran dan pemantauan terhadap masyarakat yang membutuhkan perhatian dan uluran tangan.
Kali ini, perhatian PWI-LS tertuju kepada Fradilla Sandy, seorang ibu yang berstatus janda dan tinggal bersama anak perempuannya yang masih duduk di bangku sekolah dasar di Kelurahan Pensiunan, Kecamatan Kepahiang.

Kondisi rumah yang ditempati ibu dan anak tersebut cukup memprihatinkan. Dinding rumah masih menggunakan pelupuh bambu yang sebagian telah lapuk dan berlubang. Lantai rumah pun masih berupa tanah.

Bukan hanya itu, bagian atap rumah juga mengalami kebocoran di sejumlah titik. Terpal dan plastik terpaksa dipasang untuk menutupi bagian atap yang rusak. Bahkan ketika hujan turun, air masih menetes masuk ke dalam rumah dan harus ditampung menggunakan baskom yang diletakkan di sejumlah sudut ruangan.

Melihat kondisi tersebut secara langsung, Ketua PWI-LS Cabang Kepahiang, Andy Hermansyah, mengaku prihatin. Menurutnya, kondisi keluarga Fradilla menjadi gambaran bahwa masih ada masyarakat di sekitar yang membutuhkan perhatian dan kepedulian bersama.

“Kami datang bukan hanya untuk melihat kondisi rumahnya, tetapi juga ingin mengetahui langsung bagaimana perjuangan ibu ini bersama anaknya. Kondisinya memang sangat memprihatinkan, apalagi rumahnya bocor dan dindingnya sudah banyak yang lapuk,” ujar Andy.

Di tengah kondisi serba terbatas, Fradilla tetap berusaha menjalani kehidupan. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membantu biaya sekolah anaknya, ia bekerja membantu di warung lontong atau warung sarapan pagi di kawasan Pasar Kepahiang.

Penghasilannya pun tidak besar. Dalam sehari, Fradilla hanya mendapatkan upah sekitar Rp35 ribu hingga Rp40 ribu.

Namun keterbatasan tersebut tidak membuatnya menyerah. Ia tetap bekerja dan berusaha agar anak semata wayangnya tetap bisa bersekolah.

“Yang membuat kami tersentuh adalah semangat ibunya. Walaupun penghasilannya tidak seberapa dan kondisi rumah sangat terbatas, beliau tetap berusaha bekerja demi anaknya. Ini yang menurut kami perlu mendapat perhatian dari banyak pihak,” lanjut Andy.

Melihat kondisi tersebut, PWI-LS Cabang Kepahiang kemudian mendatangi langsung kediaman Fradilla dengan membawa bantuan berupa sejumlah perlengkapan rumah tangga serta bantuan uang tunai untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga tersebut.

Dalam kunjungan itu, PWI-LS tidak sendiri. Turut hadir Ketua Yayasan Amar Makruf Kepahiang, Ustadz Gusti Santoso, Ketua BIPEKA yang diwakili Ustazah Rini Puspita Sari, serta Kasepuhan PWI-LS Ustadz Ropiq.

Ketua Yayasan Amar Makruf Kepahiang, Ustadz Gusti Santoso, mengatakan bantuan tersebut mungkin belum mampu menyelesaikan seluruh persoalan yang dihadapi keluarga Fradilla. Namun, menurutnya, kepedulian sekecil apa pun tetap memiliki arti bagi masyarakat yang sedang membutuhkan.

“Mudah-mudahan bantuan ini bisa sedikit meringankan beban ibu dan anaknya. Yang paling penting bukan seberapa besar bantuan yang diberikan, tetapi bagaimana kita mau hadir dan peduli ketika melihat ada saudara kita yang sedang kesulitan,” ungkap Gusti Santoso.

Ia juga berharap kondisi keluarga Fradilla dapat menjadi perhatian bersama, sehingga ke depan ada lebih banyak pihak yang tergerak untuk membantu, khususnya dalam memperbaiki tempat tinggal yang saat ini masih sangat sederhana.

Sementara itu, Andy Hermansyah yang juga diketahui berprofesi sebagai guru di SDIT Cahaya Robbani Kepahiang, mengatakan kegiatan sosial tersebut merupakan bagian dari upaya PWI-LS untuk terus mendekatkan diri dengan masyarakat.

Menurutnya, masyarakat yang membutuhkan bantuan terkadang berada tidak jauh dari lingkungan sekitar. Hanya saja, kondisi mereka belum tentu diketahui banyak orang.

“Jangan sampai ada masyarakat yang kesulitan tetapi kita tidak tahu. Karena itu kami akan terus berkeliling dan melihat langsung kondisi masyarakat. Kalau ada yang membutuhkan, sebisa mungkin kami bantu dan kami juga akan berusaha mengajak pihak lain untuk ikut peduli,” kata Andy.

Kunjungan tersebut pun menjadi pengingat bahwa di tengah keterbatasan, masih ada perjuangan yang terus dijalani seorang ibu demi masa depan anaknya.

Di rumah sederhana berdinding bambu dan beratap bocor itu, Fradilla mungkin tidak memiliki banyak hal. Namun, ia tetap memiliki satu hal yang tidak ternilai: semangat untuk terus berjuang agar anaknya bisa sekolah dan memiliki masa depan yang lebih baik.

Exit mobile version