Kepahiangnews.com-Kepahiang – Tanpa dukungan penyuluhan dari pihak berwenang, petani jahe di Kabupaten Kepahiang terpaksa melakukan panen prematur setelah tanamannya diserang penyakit busuk rimpang. Kondisi ini tidak hanya membuat kualitas hasil panen menurun, namun juga menyebabkan harga jual anjlok hingga Rp5.000 per kilogram.
Pada siklus pertanian normal, jahe dipanen setelah berusia 8 hingga 9 bulan pasca tanam untuk mendapatkan hasil optimal. Namun, kondisi darurat membuat sebagian besar petani di wilayah ini terpaksa memanen lebih awal, bahkan ketika tanaman baru berusia sekitar 5 bulan.
Sugiman (45), seorang petani dari Desa Pelangkian Kecamatan Kepahiang, mengaku harus segera memanen lahan seluas 0,5 hektarnya yang ditanami jahe karena gejala penyakit sudah sangat parah. “Daun dan batangnya mulai menguning dan membusuk. Saya takut jika dibiarkan lagi, seluruh umbi jahe saya akan hancur total dan tidak bisa dijual sama sekali,” kata Sugiman saat ditemui di lokasi kebunnya, Selasa (23/1).
Pemeriksaan awal menunjukkan bahwa penyebab utama masalah tersebut adalah Fusarium oxysporum f.sp. zingiberi, jenis jamur yang menyerang sistem perakaran dan rimpang tanaman jahe. “Kami awalnya mengira terserang virus, tapi setelah melihat gejalanya lebih dekat, ternyata adalah penyakit jamur. Sayangnya, kami tidak pernah mendapatkan bimbingan atau penyuluhan tentang cara mengenali dan menangani penyakit ini dari dulu hingga sekarang,” tegas Sugiman dengan nada kesal.
Kerugian semakin terasa ketika hasil panen prematur harus dijual dengan harga jauh di bawah pasar. Suyatmi (39), petani jahe dari desa yang sama mengungkapkan bahwa harga jahe yang biasanya berkisar Rp17.000 per kilogram kini hanya bisa didapatkan Rp12.000 per kilogram dari para penggepul.
“Jahe yang dipanen lebih awal ukurannya kecil dan kadar patinya rendah, jadi penggepul bilang kualitasnya tidak baik. Padahal kami tidak punya pilihan lain selain menjualnya untuk menutupi sebagian modal,” jelasnya.
Tak hanya jahe yang mengalami masalah. Pantauan tim Kepahiangnews.com di lapangan menemukan bahwa beberapa komoditas lain seperti cabai merah juga terdampak serius. Tanaman cabai di beberapa lahan petani terserang virus Gemini yang menyebabkan daun menguning, keriting, dan pertumbuhan terhambat, bahkan hingga gagal panen total. Virus ini menyebar melalui serangga vektor kutu kebul dan dapat menjangkiti berbagai jenis tanaman sayuran dalam waktu singkat.
